“Laku Hote” Jubah Kebesaran dan Simbol Kemakmuran

Tak ada merek seperti kain dan pakaian masa kini, tetapi memiliki warna khas serta daya tahan luar biasa. Bahkan hingga sekarang masih ditemukan beberapa jubah peninggalan dari masa lampau, diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1500-an.

Kain ini sarat nilai filosofi yang berkaitan erat dengan hukum semesta alam, tercermin dari simbol-simbol yang dirajut pada bagian tertentu helai kain atau jubah hasil tenun. Bahannya berasal dari unsur-unsur alami, diolah dari berbagai jenis tumbuhan lokal melalui seni kerajinan tenun tradisional.

Masyarakat Sangihe dan Talaud pada masa itu sangat piawai memenuhi kebutuhan sandang, meski hanya menggunakan peralatan sederhana, jauh berbeda dengan alat pabrikan masa kini. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mereka mampu membuat pakaian dan perlengkapan lainnya secara mandiri.

Pada umumnya, jubah hasil tenun tradisional ini dikenal dengan sebutan Koffo. Namun, masyarakat Sangihe dan Talaud juga menyebutnya Laku Hote, karena bahan dasarnya berasal dari pisang yang dalam bahasa lokal disebut Busa Hote.

Secara luas, tanaman ini dikenal sebagai pisang abaka. Bagian yang dimanfaatkan adalah seratnya, yang diproses dengan penuh ketekunan hingga menghasilkan benang untuk ditenun menjadi kain pakaian.

Perjalanan kain ini sangat panjang dan menyimpan banyak kisah, sejak masa para raja yang mendiami pulau-pulau di wilayah perbatasan Sulawesi Utara dan Filipina.

Kini, kreativitas seperti itu tak lagi tumbuh di setiap rumah keturunan asli. Yang tersisa hanyalah cerita, tersimpan dalam ingatan sebagian orang. Beberapa benda peninggalan hanya dijadikan pajangan, bukan lagi sumber inspirasi berkarya. 

Ia kerap menjadi tontonan dalam kegiatan seremonial—baik untuk kepentingan birokrasi maupun politik—namun belum kembali menjadi kegiatan utama yang dibudidayakan sebagai ikon kerajinan khas daerah atau sumber penghasilan, seperti yang masih dilakukan Suku Badui di Jawa Barat hingga kini, meski mereka tidak mengandalkan pendidikan formal maupun teknologi modern.

Diharapkan suatu hari nanti kerajinan ini dapat berkembang kembali melalui tangan generasi baru. Saat ini sudah ada segelintir pecinta budaya yang mulai belajar demi pelestarian kearifan lokal ini, walaupun jumlahnya masih terbatas.

Semoga warisan ini tetap lestari hingga generasi mendatang, menjadi ikon karya yang sarat makna dan nilai, sekaligus mampu mengimbangi roda ekonomi masa kini.

Selamat berkarya untuk generasi baru. Tetap semangat, tekun, dan bertahan—layaknya kain Koffo dan Laku Hote yang masih menyampaikan pesan bagi kita semua.

Penulis: Vander Katinusa

Bagikan Artikel ini:

Artikel Terkait

Terpopuler Minggu Ini

#
Berita

Posyandu Kampung Utaurano Gelar Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing, Masyarakat...

#

Rona Senja dan Mustika di Ujung Utara Sulawesi

#

Profil Inspiratif: Mayske Angelica Takasihaeng, Perempuan Muda yang Berdikari dan Pantang...

#

Bupati Thungari Perjuangkan Keringanan Kredit, Suku Bunga ASN Sangihe Resmi Diturunkan

#

Upacara Adat atau/dan Ibadah Syukur

Artikel Terbaru