Awan Sengketa Senja (Bagian 2)

Puncak dari semua penderitaan hidup kami terjadi ketika aku dan Mala pulang ke rumah suatu sore dan mendapati ayah terbaring kaku di tempat tidurnya. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang tidak lagi bergerak memberitahu kami bahwa dia telah pergi untuk selamanya.

Aku jatuh berlutut di sampingnya, air mataku mengalir deras. Mala menjerit dan memeluk tubuh ayah yang sudah dingin, menangis sejadi-jadinya. Kesedihan yang teramat dalam menyelimuti kami. Aku terisak-isak, merasakan perih di dalam dada yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ayah, sosok yang selalu menjadi pahlawan di mataku, kini telah tiada.

Kenangan tentangnya seakan menyeruak masuk ke dalam pikiranku, satu demi satu. Bagaimana dia dulu mengajariku untuk menangkap ikan, menanamkan padaku nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Wajahnya yang penuh semangat ketika menceritakan kisah-kisah masa mudanya, suaranya yang berat namun penuh kelembutan.

“Kenapa, Pak? Kenapa harus pergi sekarang?” gumamku di tengah isak tangis.

Mala menggenggam tanganku dengan erat, sama-sama tenggelam dalam duka yang mendalam.

“Pak… pak…” isaknya, suara parau penuh kepedihan. “Kenapa semuanya harus terjadi pada kita? Mengapa orang-orang yang kita cintai selalu diambil dari kita?”

Setiap sudut rumah yang dulu penuh dengan canda dan tawa kini terasa sunyi dan dingin. Kehilangan ini begitu mendalam, begitu nyata, hingga seolah-olah merobek bagian terdalam dari hati kami.

Baca juga: Awan Sengketa Senja (Bagian 1)

Aku dan Mala harus mengurus pemakaman ayah tanpa ibu di sisi kami. Proses itu terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Mala dan aku berusaha kuat, namun air mata terus mengalir tanpa henti. Setiap detik terasa begitu panjang, setiap langkah menuju liang kubur terasa begitu berat. Mala tidak bisa berhenti menangis, sementara aku hanya bisa berdiri di sampingnya, mencoba menahan diri agar tidak runtuh sepenuhnya.

Di tengah segala kesulitan, aku merasa dunia ini sangat tidak adil. Kehidupan yang sudah keras menjadi semakin tidak tertahankan tanpa kehadiran ayah dan ibu. Namun, Mala tetap berpegang pada janjinya. Di tengah tangis dan duka, dia berkata dengan penuh tekad, “kita harus terus berjuang, Pur. Kita harus bangkit. Demi Ibu, demi Bapak.”

Setelah ayah tiada dan ibu tidak ada disamping kami, Mala selalu bekerja mati-matian untuk menghidupiku. Mala yang harus banting tulang dan mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, membuatku merasa sangat kasihan padanya. Mala bekerja tanpa henti, dan setiap kali dia pulang, wajahnya selalu penuh dengan luka baru yang menjadi bukti perlakuan kejam suaminya.

Aku sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan bekerja untuk membantu Mala. Hingga pada suatu malam, ketika Mala pulang dengan wajah yang letih dan lebam di sudut bibirnya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku.

“Kak, aku berhenti sekolah saja ya. Aku bisa bekerja dan membantu kakak,” kataku dengan suara pelan tapi tegas.

Mala langsung menghentikan langkahnya, menatapku dengan tatapan tajam. “Apa yang kamu katakan, Pur? Tidak mungkin kamu berhenti sekolah!”

“Aku tidak tahan melihat kakak terus menderita seperti ini. Setiap hari bekerja keras dan masih diperlakukan kasar oleh suami kakak. Aku bisa membantu mencari uang, Kak. Biar beban kakak sedikit berkurang,” jawabku, mencoba meyakinkannya.

“Gila kamu Pur! Kamu tidak mengerti! Pendidikan adalah satu-satunya harapan kita untuk keluar dari kemiskinan ini!” Mala berteriak, suaranya gemetar antara marah dan putus asa.

“Tapi, Kak, aku tidak bisa melihat kakak seperti ini terus. Setiap kali aku melihat luka di wajah kakak, hatiku sakit. Aku merasa tidak berguna kalau hanya terus bersekolah sementara kakak menderita,” balasku, suaraku mulai meninggi.

Mala menggelengkan kepalanya, air mata pun mengalir di pipinya. “Pur, kamu adalah harapan satu-satunya. Kamu harus sukses. Kamu harus membuktikan bahwa kita bisa keluar dari lingkaran kemiskinan ini. Hanya dengan pendidikan, kamu bisa mengubah nasib kita. Aku rela menanggung semua penderitaan ini agar kamu punya masa depan yang lebih baik. Jangan buat pengorbananku sia-sia!”

Malam itu, aku akhirnya mengerti betapa besar cinta dan pengorbanan Mala untukku. Dia rela menanggung segala penderitaan demi memastikan aku mendapatkan pendidikan yang layak. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengecewakannya. Aku akan terus berjuang, demi ibu, ayah, dan terutama, demi Mala yang telah memberikan segalanya untukku.

Setiap pagi, aku berjalan ke sekolah dengan sepatu lusuh yang dulu aku dan Mala gunakan secara bergantian. Aku selalu duduk di depan kelas, menyerap setiap kata yang diajarkan oleh guru. Hingga pada suatu hari, sebuah kesempatan yang tidak terduga datang menghampiri. Ada pengumuman di sekolah tentang lomba menulis yang diadakan oleh sebuah lembaga pendidikan ternama. Hadiahnya tak main-main, beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di universitas. Aku merasa ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan penuh keyakinan, aku merogoh ke dalam laci kayu di rumah, mengeluarkan sebuah buku tua yang telah lama menjadi teman setiaku. Buku ini penuh dengan pengetahuan dan petuah, sumur tak berujung yang menyediakan air bagi dahaga jiwa yang ingin belajar.

Dengan pena yang siap menari di atas kertas, aku mulai menulis sebuah esai yang menggambarkan perjuangan hidup dan pentingnya pendidikan. setiap kata yang kutorehkan seolah berdenyut dengan semangat yang membara, mencerminkan keteguhan dan harapan yang tak pernah padam di hati. Setelah selesai menulis, aku membaca kembali esai itu dengan hati yang penuh harap. Dengan hati-hati, aku melipat kertas itu dan meletakkannya di dalam amplop, siap untuk dikirimkan ke tempat yang dituju. Tak disangka, esai yang kutulis mendapat perhatian dari juri. Mereka sangat terkesan dengan kisah perjuanganku yang tulus dan penuh harapan. Akhirnya, aku dinyatakan sebagai pemenang lomba dan mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di universitas. Keberhasilan ini adalah titik balik dalam hidupku. Aku, yang dulunya hanya seorang anak kampung miskin yang sering dipandang sebelah mata, kini memiliki kesempatan untuk mengejar mimpi-mimpiku. Dengan beasiswa itu, aku melanjutkan pendidikan di universitas ternama. Aku memilih jurusan sastra karena aku ingin menjadi penulis yang bisa menginspirasi orang lain melalui cerita-ceritaku.

Setelah melewati perjuangan panjang dan berliku, aku berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, sebuah pencapaian yang kuraih dengan susah payah. Dalam hatiku, tersimpan sebuah keinginan untuk menulis sebuah buku yang diharapkan dapat menginspirasi dan membawa perubahan bagi orang lain. Dengan penuh semangat dan keyakinan, aku mulai menulis. Setiap malam, ketika desa telah sunyi dan hanya suara angin yang terdengar, aku duduk di depan meja kayu, menggoreskan pena di atas kertas. Kata demi kata, kalimat demi kalimat telah kutuliskan dengan susah payah. Akhirnya bukuku selesai. Dengan harapan yang besar, aku mengirimkan naskah itu ke penerbit. Mereka setuju untuk menerbitkannya, dan aku merasa seperti telah menapaki tangga menuju mimpi yang selama ini ku damba. Namun, ketika buku itu akhirnya keluar di pasaran, kenyataan yang pahit menamparku.  Buku itu tidak laku. Penjualannya jauh dari harapan, toko-toko buku enggan menambah stoknya, dan buku-buku yang telah dicetak menumpuk di gudang tanpa ada yang berminat untuk membelinya.  

Perasaan kecewa dan putus asa masih menggelayuti hatiku setelah kegagalan buku pertamaku di pasaran. Setiap hari, aku berusaha mencari cara untuk bangkit dan menemukan kembali semangat yang pernah membara di dadaku. Hingga pada suatu sore yang penuh kebimbangan, aku menulis sebuah catatan kecil di komputerku. “Awan Sengketa Senja,” sebuah judul yang tiba-tiba terlintas dipikiranku, seperti hembusan angin yang membawa aroma kenangan masa lalu. Dalam tulisan itu, aku mencurahkan segala perasaan dan pengalaman hidupku, sebuah kisah yang tidak hanya mengisahkan kegagalan tetapi juga harapan yang tetap hidup di tengah keterpurukan. Aku menulisnya dengan penuh kejujuran dan emosi,  seolah-olah setiap kata yang kutulis adalah tetesan air mata yang mengalir dari hatiku. Tanpa rencana yang jelas, aku memutuskan untuk mempublikasikan tulisan itu di sebuah blog sederhana, dengan niat hanya untuk berbagi dan melepaskan beban yang selama ini menghimpit.

Hari-hari berlalu tanpa ada ekspektasi apapun, Namun, suatu pagi, ketika aku membuka blog, aku terkejut melihat respon para pembaca. Tulisan “Awan Sengketa Senja” ternyata menyentuh banyak hati. Komentar-komentar positif dan pesan dari pembaca yang merasa terinspirasi oleh kisahku mulai berdatangan. Tulisan itu menyebar dengan cepat ke berbagai platform di sosial media. Tanpa disangka, seorang penerbit besar yang juga membaca karyaku kini menghubungiku dan menawarkan untuk membukukan tulisanku. Aku merasa deperti mimpi dan harapanku terwujud ketika pada akhirnya buku “Awan Sengketa Senja” menjadi best seller. Kisah yang awalnya hanya catatan kecil di blog sederhana, kini telah berubah menjadi sebuah karya yang menghantarkan pesan tentang perjuangan, harapan, dan cinta yang tak pernah pudar meski dihantam ganasnya ombak kehidupan.

Sementara itu, nasib ibuku berubah drastis. Berkat dukungan dari teman-teman sepenjaranya, dan bantuan dari para pembaca yang kini menjadi penggemarku, kami menemukan bukti baru yang menunjukkan bahwa ibu tidak bersalah. Pengakuan dari keluarga korban akhirnya membebaskan ibu dari segala tuduhan. Ibu kembali ke rumah, namun dia memilih untuk tidak lagi bekerja sebagai tukang pijat. Sebaliknya, dia mulai berfokus untuk merawat tanaman obat dan membantu orang-orang dengan pengetahuan herbal yang dia miliki.

Kesuksesan yang kucapai bukan hanya keberhasilan pribadiku. Ini adalah kemenangan bagi seluruh keluargaku, terutama ibu yang selalu bekerja keras tanpa mengeluh dan Mala yang telah berkorban begitu banyak untuk mendukung pendidikan dan masa depanku. Dengan penghasilan dari buku yang kutulis, aku mampu mengangkat kehidupan keluargaku dari kemiskinan. Kami membangun sebuah rumah yang layak, ibu tidak perlu lagi bekerja keras seperti dulu, dan Mala akhirnya bisa melanjutkan pendidikannya. Keberhasilan ini adalah hasil dari ketekunan, kerja keras, dan ketulusan hati ibu serta pengorbanan Mala. Dari kehidupan yang penuh kesulitan, kami berhasil meraih mimpi dan kebahagiaan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Keberhasilanku dalam meraih mimpi-mimpi yang dahulu hanya bayangan samar adalah bukti nyata dari kekuatan tekad dan keinginan yang tak kenal lelah. Seperti pepatah bijak yang selalu dipegang teguh olehku, “Somahe Kai Kehage,” yang berarti semakin besar tantangan yang kita hadapi, semakin gigih kita menghadapi tantangan sambil memohon kekuatan dari Tuhan, pasti akan beroleh hasil yang gilang gemilang. Setiap langkah yang diambil penuh dengan harapan, seolah-olah nasib menuntun kita melalui lorong-lorong tak terduga yang dipenuhi tantangan.

Aku belajar bahwa kehidupan ini adalah sebuah pelajaran yang tidak pernah selesai, di mana setiap babnya penuh dengan misteri dan makna yang tersembunyi. Namun, apakah ada makna yang lebih besar di balik semua ini? Apakah kita hanya pemain dalam sebuah sandiwara besar yang ditulis oleh kekuatan yang lebih besar? Atau apakah kita sendiri yang menulis naskah kehidupan kita? Dan jika demikian, apakah kita benar-benar tahu apa yang kita tulis? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tak akan pernah benar-benar ditemukan, tetap menjadi misteri yang membingungkan hati dan pikiran. Namun, dalam ketidakpastian ini, ada satu hal yang pasti: setiap langkah yang diambil dengan hati yang tulus, setiap tantangan yang dihadapi dengan keberanian, dan setiap doa yang dipanjatkan dengan harapan, akan selalu membawa kita menuju masa depan yang lebih baik. Mungkin di sanalah letak rahasia kehidupan ini, tersembunyi di antara garis-garis takdir dan pilihan, menunggu untuk diungkapkan oleh mereka yang berani menjalani perjalanan hingga akhir.

Apakah makna dari semua ini? Mungkin, kita hanya akan benar-benar memahaminya saat cerita kita sendiri mencapai halaman terakhir. Dan pada saat itu, apakah kita siap untuk menerima jawabannya. (Selesai)

Tentang Penulis:

Gladys Tamalawe adalah cerpenis berbakat asal Kepulauan Sangihe. Karya-karya Cerpennya sarat akan makna-makna sosial. Selain aktif menulis beragam karya sastra, ia juga gemar melukis dan membaca. Di usianya yang masih remaja ia sudah menggandrungi sejumlah penulis-penulis terkenal seperti, Leila Chudori, Ayu Utami dan Pramoedya Ananta Toer.

Bagikan Artikel ini:

Artikel Terkait

Terpopuler Minggu Ini

#
Berita

Posyandu Kampung Utaurano Gelar Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing, Masyarakat...

#

Rona Senja dan Mustika di Ujung Utara Sulawesi

#

Profil Inspiratif: Mayske Angelica Takasihaeng, Perempuan Muda yang Berdikari dan Pantang...

#

Bupati Thungari Perjuangkan Keringanan Kredit, Suku Bunga ASN Sangihe Resmi Diturunkan

#

Upacara Adat atau/dan Ibadah Syukur

Artikel Terbaru