Bupati Sangihe: Rumah Tradisional Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Jejak Kehidupan Leluhur

Redaksi
Bupati Michael Thungari membuka seminar budaya rumah tradisional Sangihe. (Foto: Rendy/Snews)

Selusurnews.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe mendorong penelusuran kembali rumah tradisional sebagai bagian dari upaya memahami identitas dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengatakan rumah tradisional tidak semestinya dilihat hanya sebagai bangunan lama yang perlu dibuat kembali. Rumah tersebut merupakan warisan yang telah dibangun dan dihuni leluhur, sehingga upaya pelestariannya perlu didasarkan pada pengetahuan dan jejak sejarah yang masih tersisa.

“Kita tidak sedang menemukan rumah tradisional. Rumah itu telah ditemukan, diciptakan, dan dihidupi oleh leluhur kita. Kita adalah pewarisnya,” kata Michael saat membuka Seminar Budaya bertema “Penemuan Kembali Rumah Tradisional Sangihe sebagai Ruang Hidup dan Identitas Budaya.” Selasa, 29/9/2026).

Menurut Michael, upaya yang dilakukan saat ini adalah mengumpulkan kembali berbagai sumber untuk merekonstruksi bagaimana leluhur Sangihe membangun rumah sekaligus menjalani kehidupan sehari-hari.

Sumber tersebut, kata dia, tidak hanya berasal dari bangunan lama. Buku, catatan sejarah, cerita para tetua, tradisi lisan, artefak, serta istilah budaya yang masih digunakan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

“Potongan-potongan informasi tersebut kita kumpulkan, kita beningkan, dan kita susun kembali untuk memahami bagaimana leluhur kita membangun rumah sekaligus menjalani kehidupannya sehari-hari,” ujar dia.

Michael mengatakan perubahan sosial sepanjang sejarah telah membuat sebagian praktik budaya masyarakat Sangihe mengalami pergeseran. Sejumlah peralatan dan kebiasaan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini semakin sulit ditemukan.

Kondisi tersebut membuat pengetahuan mengenai rumah tradisional tidak cukup dipelajari dari bentuk fisiknya. Menurut Michael, perlu ditelusuri pula fungsi rumah, cara masyarakat menggunakannya, serta nilai dan pengetahuan yang melatarbelakangi pembangunannya.

Dokumentasi yang dibuat pihak luar pada masa lalu, kata Michael, juga dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk melihat kehidupan masyarakat Sangihe pada zamannya.

Ia menyebut buku, kamus bahasa Sangihe, catatan sejarah, dan berbagai dokumen lama sebagai sumber yang dapat membantu masyarakat membaca kembali kehidupan leluhur.

“Apa yang sudah dicatat oleh orang lain, hari ini dapat kita gunakan untuk membaca kembali jati diri orang Sangihe,” katanya.

Namun, sumber tertulis tidak bisa berdiri sendiri. Michael menilai pengetahuan yang masih tersimpan dalam ingatan para tetua harus segera didokumentasikan sebelum hilang bersama pergantian generasi.

Ia mendorong pertemuan antara arsip tertulis dengan pengetahuan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Buku harus bertemu dengan cerita para tetua, arsip harus bertemu dengan tradisi lisan, cerita harus bertemu dengan artefak, dan semuanya harus bertemu dengan pengetahuan masyarakat Sangihe sendiri,” ujar Michael.

Menurut dia, pertemuan berbagai sumber tersebut diperlukan agar proses rekonstruksi kebudayaan dilakukan berdasarkan bukti dan pengetahuan yang memadai.

Seminar budaya tersebut menghadirkan Ketua Dewan Adat Lukman Makapuas, Sesepuh Adat Niklas Mehare, serta Soleman Bakir selaku penggagas kegiatan.

Kegiatan turut dihadiri Yubelita Andriani Tudus, pejabat fungsional yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, unsur adat, serta peserta seminar.

Melalui seminar tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe ingin mendorong pembahasan rumah tradisional tidak berhenti pada persoalan arsitektur.

Rumah tradisional dipandang sebagai pintu masuk untuk memahami cara hidup, pengetahuan, tradisi, dan hubungan masyarakat Sangihe dengan lingkungannya.

Dengan pendekatan itu, upaya pelestarian tidak hanya mempertahankan bentuk bangunan, tetapi juga menjaga pengetahuan budaya yang membuat rumah tradisional tersebut memiliki makna bagi masyarakat Sangihe.

(Rendy/Chres L)