Bawowo Riwayatmu Kini: Tradisi Menidurkan Bayi di Nusa Utara

Kakumbaede, kakalanto, bawowo, kakalumpang, dan sasambo adalah jenis sastra yang berkembang di nusa utara (Sangihe Talaud Sitaro). Jenis-jenis tersebut termasuk dalam jenis sastra yang didendangkan. Ada yang masih berkembang dan digunakan hingga saat ini meski hanya dalam momen tertentu. Bawowo salah satunya. 

Bawowo mengalami proses perkembangan dan menyesuaikan dengan zaman yang semakin modern. Namun tujuannya tetap tidak berubah.

Syair bawowo tua yang masih bisa ditelusuri adalah:

Mendeno maning ta lruwi

Mendeno maning ta lruwi inang… 

Hedo pelenong.. sasau..

Oh pelenong.. sasau

Kakedi ari se sangi 

Kakedi ari sesangi inang…

Tamakatahang melele

Tamakatahang melele…

Ini jenis bawowo untuk anak gadis. Untuk anak laki-laki juga ada jenisnya. 

Bawowo didendangkan dengan maksud untuk mendiamkan bayi menangis di buaian (bhs Sangir; hiang). Terlebih di malam hari, apabila ia hendak tidur atau haus dan lapar.

Masyarakat Nusa Utara percaya jika tangisan bayi itu akan didengar oleh makhluk halus dan akan mengganggu bayi tersebut sehingga perlu dinyanyikan bawowo (pengarib) oleh orang tuanya, supaya cepat tidur dan berhenti dari tangisannya.

Dendang bawowo dimaksudkan untuk pembising, menutupi lengkingan suara tangisan bayi agar tak kedengaran dari jauh.

Lambat laun masyarakat menyesuaikan lagu dengan lagu gereja seperti Dua Sahabat Lama, Nafiri Perak, dll. Ada juga menggunakan syair masamper. 

Ada syair masamper yang saya suka dengar dan dendangkan ketika membuai bayi. Syair masamper jenis ‘pengenangan ayah bunda’ judulnya Cinta Kasih Ibu:

Jikalau aku hendak pergi

Ke tanah jauh

Selalu aku mengenangkan

Ibu kekasih

Yah Tuhanku 

Lanjutkanlah

Umur usiaku

Supaya aku bertemu

Dengan ibu kekasih. 

Banyak pilihan lagu pasca berkembang nyanyian-nyanyian. Ada juga syair lagu Pengenangan Ayah Bunda, yang sering dinyanyikan saat menidurkan bayi dalam buaian. Judulnya: Sengsara Ibu. Lirik di bawah ini belum sempurna karena ada yang terlupakan. Silakan dikoreksi. 

Sengsara ibu menjaga anaknya

Pada masa peperangan

Kiri kanan orang meninggalkan rumah

Meluputkan diri dari bahaya

Siang malam anak bertanya ibunya

Oh, ibuku, bapakku di mana

Dengan susah ibunda menjawab

Bapakmu dalam perjuangan

Orang tua di Nusa Utara pintar mengatur ritme buaian sesuai ketukan lagu. Bagi orang-orang tua terdahulu, mereka tidak kekurangan syair lagu. Berjam-jam pun mereka bisa bernyanyi tanpa putus. Habis satu lagu, disusul syair lagu berikutnya. Jarang mengulang lagu yang sudah dinyanyikan. 

Zaman berkembang, lagu-lagu pop membanjir. Kadang generasi yang lebih mudah sudah banyak melupakan lagu-lagu masamper, dua sahabat lama, nafiri perak, dll. Apalagi  memowo (mendendangkan bawowo) dengan cara tua, itu sudah terlupakan. Sudah tertinggal jauh di belakang. 

Semakin modern, kadang untuk menidurkan bayi atau menutup suara tangisan bayi, orang tua sekarang tinggal memutar tape, DVD, atau memainkan musik dari telepon genggam. Ok, fine, masalah selesai dan tidak usah menghafal dan mengingat lagu-lagu lama itu. 

Ada bayi juga dibiasakan dengan musik ramai, seperti disco tanah. Lagu kegemaran anak muda penduduk tiktok. Lagu identik dengan goyang pinggul. Bayi tertidur pulas dan nyenyak.

Tetapi pada ibu-ibu bayi generasi Z sekarang ini, atau saya lebih suka menyebut generasi coco melon, little angel, dll masih ada yang berusaha mempertahankan cara bernyanyi untuk menidurkan bayi. Tentunya lebih modern dan canggih. Ibu-ibu menggunakan handphone dan bernyanyi karaoke untuk menidurkan bayi. Selain simpel juga mengasyikan. Dan fix, bayi tidur, ibunya riang, bapaknya lebih bahagia karena mendapat kesempatan. 

Bawowo secara perlahan mulai dilupakan. Pada waktunya, semua akan tinggal kenangan.

Penulis: Jolly Horonis (Sastrawan dan Peneliti Budaya dari Siau)

Bagikan Artikel ini:

Artikel Terkait

Terpopuler Minggu Ini

#
Berita

Posyandu Kampung Utaurano Gelar Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing, Masyarakat...

#

Rona Senja dan Mustika di Ujung Utara Sulawesi

#

Upacara Adat atau/dan Ibadah Syukur

#

Profil Inspiratif: Mayske Angelica Takasihaeng, Perempuan Muda yang Berdikari dan Pantang...

#

Bupati Thungari Perjuangkan Keringanan Kredit, Suku Bunga ASN Sangihe Resmi Diturunkan

Artikel Terbaru